Rabu, 29 Juni 2011

Lomba Novel

Assalamu'alaykum!!!

teman-teman semua bagi yang buka blog saya (^^ Blognya serasa dibaca dan dikunjungi)!!!
ada berita menarik. bagi antum yang hobi nulis, ada lomba buat novel lho di Republika! silahkan lihat di http://www.republika.co.id/iklan/novel/novel.html

Ok! Ok! selamat mencoba!!! \>o ganbate kudasai! Fighting! Hwaiting! Hamasah! Semangat! chayou! and sebaginya...
kalau menang, jangan lupa bagi-bagi rezeki ya!!! (terlalu mengharap) hehe...

Senin, 11 April 2011

surat untuk eman-teman luar biasa

Saya bertemu dengan orang-orang hebat. mereka para 'pejantan tangguh', sang pejuang kehidupan, penyongsong mentari dan penghapus kata 'malas'. saya rasa, mereka tak kalah hebat dengan Soekarno-Hatta sang proklamator, seoharto sang bapa pembangunan dan sejenius BJ Habibie. mereka dipenuhi akhlak mulia, dekat dengan Sang Pencipta, dan menjadikan diri mereka bagaikan permata yang terpendam tak terjamah. begitu indah dan memukau. terimakasih, senantiasa terucap untuk kalian semua. sang inspirasi yang membantuku mencium harum. aku berharap kebahagiaan yang kekal senantiasa menanti kalian dalam keindahan yang kasat mata, keharuman yang tak mampu di cium, dan kenikmatan yang membuat alam semesta tergiur. terima kasih. di sini pun, saya akan terus berusaha. salam hangat dan sayang dari saya untuk kalian 'para pendekar mimpi dan ksatria hidup'. mahasiswa-mahasiswi Pendidikan Matematika angkatan 2010 UIN Sunan Kalijaga. senang rasanya bisa berada ditengah kalian.
semoga Allah senantiasa meridhai kita..., teman (n_n)

Selasa, 29 Maret 2011

-_- Zzz...

Saya yang salah. Menapak mimpi yang salah, selalu berangan-angan seperti seorang anak yang merengek meminta lolipop dari ibunya. Saya yang salah. Terlalu berharap, padahal hal yang sama pernah terulang beberapa kali, dan hasilnya sama. Tak pernah bakal terpenuhi apa yang diharapkan, karena engkau tergantung pada dirimu sendiri. Ya Rabb... saya yang salah!

Selalu terbungkus dengan bualan dan khayalan yang akhirnya membuat saya terbang terlalu tinggi tanpa adanya pegangan. Kini, saya terhempas jatuh! Tak tanggung-tangung, langsung di dasar palung yang paling curam. Senyum ini sudah benar-benar berat dan mata ini sudah begitu memanas. Saya yang terlalu cengeng. Saya yang terlalu manja. Dan saya yang terlalu kenak-kanakan. Tak pernah bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya ingin batin saya ungkapkan. Tak pernah bisa mengekspresikan apa sesungguhnya yang saya rasakan. Selalu beda dalam pandangan mereka. Saya tahu itu... dan saya mulai berpikir bahwa saya ada untuk menyenangkan mereka dan saya ada untuk dianggap mereka bukan untuk tahu siapa saya? Kenapa dan untuk apa saya ada di dunia ini? .

Ternyata semuanya tersingkap! Nyata yang sungguh memprihatinkan! Saya ada bukan karena untuk saya tapi demi tujuan penganggapan dari orang lain. Kapan pola pikir ini terbentuk? Rasanya semua sel saraf ini berdenyut dan meringis. Saya mulai membenci diri saya sendiri!

Rabu, 16 Maret 2011

Hilang (16 Maret 2011)

Sekejap mata...
Hanya dalam kedipan lensa
Kau yang mengembangkan senyum, kini menghilang...

Menyentuh telinga...
Hanya sampai pada frekuensi gendang
Kau yang bernyanyi merdu, kini menghilang...

Meyeruak hidung...
Hanya menyapa bau kelezatan
Kau yang memiliki harum itu, kini menghilang...

Mengusap kulit...
Hanya merasuk di tiap pori
Kau yang menggelitik, kini menghilang...

Meraba lidah...
Hanya meniti lembaran rasa
Kau yang beragam, kini menghilang...

Yang terpaku, tinggal kami
Yang mengenang, tinggal kami
Yang basah, tinggallah kami

Pusaran itu mungkin telah kering
Senyum itu mungkin telah membias
Suara itu mungkin telah samar
Harum itu mungkin telah memudar
Namun dirimu... tetap bersemayam dalam kenangan...
Selamat jalan, kawan...
###

Teruntuk seorang teman, Almarhum Rizky Darmawan Iman yang telah dipanggil oleh-Nya mendahului kami.
Teruntuk seorang teman, yang telah menjadi bagian dari keindahan memori.
Teruntuk seorang teman, yang mulai melangkah di tahapan selanjutnya dalam hidup.
Teruntuk seorang teman, yang menutup matanya pada tanggal 15 Maret 2011.
Teruntuk seorang teman, yang bahkan hanya ku tahu, tak pernah ku kenal.
Dan teruntuk seorang teman, semoga Allah mengampuni segala dosa dan khilaf, dan menerima semua amal ibadahmu.
Dan teruntuk seorang teman, selamat jalan...

Senin, 14 Maret 2011

politik oh politik

Bagiku sendiri, politik adalah barang yang paling kotor
Lumpur-lumpur yang kotor
Tapi suatu saat, dimana kita tidak dapat menghindari diri lagi
Maka terjunlah...(GIE. 2005)
###

Mempersiapkan diri untuk menatap politik di Kampus Putih
Mempersiapkan diri mengarungi politik di kalangan penyeru
Mempersiapkan diri melihat kebenaran akan nilai diri
Mempersiapkan diri menyadari bahwa pikiran kami telah tergerogoti oleh para pendahulu kami
Para politisi yang senantiasa kita guncingkan dengan keserakahan mereka
Mempersiapkan diri untuk menyadari bahwa kami sungguh tidak berbeda dengan mereka
Mempersiapkan diri bahwa kami adalah anak mereka...
(Catatan senja untuk PEMILWA kampus putih...)

Rindu

Baru saja kemarin kurasakan merdunya udara
Yang menggelitik telinga dan menggoyangkannya
Baru saja kemarin ku cium wangi tanah pijakan
Yang menyeruak merelungi kalbu
Namun hati ini sudah kembali rindu, kawan
Menginjak damai dan penuh senyum mereka

Rasanya baru kemarin ku melihat gemericik dedaunan
Yang bergoyang mengalirkan kesejukkan di selasar kulitku
Rasanya baru kemarin ku dengar dendangan mentari
Yang menyelimutiku dengan erat dan penuh kehangatan
Namun pikir ini menggila untuk kembali, kawan
Terus mengelilingi mimpi di muara rindu

Rasanya baru kemarin paras itu merasukku
Mengulum senyum di batinku
Menghangatkan tubuh yang menggigil rindu
Rasanya baru kemarin sayatan itu melepasku
Melebarkan sayap mimpiku
Yang memberanikan diriku mengarungi tegukkan hidup
Namun diri ini tak mudah dilepaskan, kawan
Karena raga dan jiwa ini terus menuntut
Kembali merangkul buih-buih kasih
Merangkul rindu yang membungbung
Merangkul sisa-sisa ingatan pengantar mimpi

Hampa

Aku menatap refleksiku di cermin
Aku menatap bayangku di dinding
Aku menatap bias auraku di jendela
Aku menatap hembusan bauku di udara
Namun, tidak ada yang bersisa...

Tengadah aku menatap langit
Terpaku aku menatap tanah
Terhanyut aku menatap ombak
Terusik aku menatap angin
Namun, tidak ada yang tertangkap...

Sunyi itu tetap mencekam
Senyum itu tetap membungbung
Ramai itu tetap terngiang
Pahit itu tetap merapat
Namun semuanya tetap hambar...

Beranjak aku berdiri
Tersungkur aku duduk
Terlelap aku tidur
Terhenyak aku dalam penjagaan
Namun semuanya tetap asing...

Teriak aku untuk di dengar
Tangis aku untuk di hapus
Diam aku untuk ditanya
Bergerak aku untuk disambut
Namun yang kembali hanya sepi...

Dengarlah...
Rapatlah...
Bicaralah...
Sentuhlah...
Kembalilah...